Posts

Mengintegrasikan "Negara Pembangunan" dan Institusi Inklusif

Kemenangan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka dalam pemilihan presiden dan wakil presiden Republik Indonesia tampaknya akan kian mengokohkan paradigma developmental state (negara pembangunan) di Indonesia. Paradigma yang telah terbukti efektif di beberapa negara Asia Timur, seperti Jepang, Singapura, Korea Selatan, dan Taiwan, itu menunjukkan bahwa intervensi strategis serta peran aktif pemerintah dapat mempercepat pertumbuhan dan transformasi sosial-ekonomi. Pendekatan ini menantang paradigma neoliberal yang meyakini peran minimal negara dalam ekonomi. Hal tersebut juga telah disampaikan secara eksplisit oleh Prabowo dalam berbagai kesempatan. Kesuksesan negara-negara Asia Timur dalam menerapkan model developmental state dapat dikaitkan dengan beberapa faktor kunci. Pertama, komitmen kuat pemerintah terhadap pembangunan industri dan teknologi sebagai pilar utama pertumbuhan ekonomi. Melalui kebijakan yang dirancang dengan cermat, pemerintah tidak hanya mengarahkan sumber daya...

Menelaah Secara Jernih Makan Siang Gratis

Program makan siang sekolah gratis sering kali diremehkan sebagian masyarakat, terutama dari kelas menengah atau atas. Persepsi ini muncul kemungkinan karena mereka tidak menghadapi kesulitan mengakses makanan sehari-hari, sebuah kondisi jauh berbeda dengan apa yang dihadapi anak-anak dari keluarga berpenghasilan rendah. Video viral di media sosial, seorang siswi SD yang kelaparan karena belum sarapan dan waktu siang hanya makan bekal nasi putih saja yang dibalut plastik, menggambarkan salah satu dari sekian banyak realitas pahit yang ada. Sesungguhnya, manfaat program makan siang gratis tidak bisa dianggap remeh. Di banyak negara, baik berkembang maupun maju, program ini telah terbukti menjadi salah satu aspek kunci dalam mengecilkan kesenjangan pendidikan, nutrisi, dan kesehatan, serta memiliki berbagai dampak positif lain yang belum pernah dibayangkan sebelumnya. Finlandia, dengan pendidikannya yang diakui terbaik di dunia, memberikan contoh nyata dengan menyediakan makan siang grat...

Paradigma Baru Pembangunan

Narasi tentang kemajuan mengalami perubahan besar. Perubahan ini bukan sekadar pergeseran kebijakan atau praktik, melainkan juga redefinisi dan paradigma fundamental dari apa yang kita anggap sebagai kemajuan dan pembangunan yang sejati. Di Indonesia, seperti di banyak tempat lain di dunia, kemajuan secara tradisional diukur berdasarkan pertumbuhan ekonomi, seringkali dengan menggunakan Produk Domestik Bruto (PDB) sebagai mistar ukur. Namun, pendekatan yang terfokus hanya pada output ekonomi ini sangat tidak mencukupi untuk menjawab tantangan multidimensi abad ke-21, yang meliputi keberlanjutan lingkungan, kesetaraan sosial, dan ketahanan ekonomi jangka panjang. Ekonomi Butuh Keseimbangan Sosial dan Lingkungan John Maynard Keynes, salah satu tokoh paling penting dalam pemikiran ekonomi dunia, menyatakan, “Ekonomi tidak seharusnya menjadi tujuan hidup, melainkan alat untuk menciptakan dunia yang lebih baik.” Pernyataan ini mengingatkan kita bahwa dalam mengevaluasi kemajuan, kita harus ...

Menggagas Ekonomi Pasar Sosial Berkelanjutan

Dalam dua dekade awal abad ke-21, Indonesia mengalami peningkatan kesenjangan ekonomi tercepat di Asia Timur. Dari tahun 2000 hingga 2015, rasio gini—sebagai ukuran kesenjangan—melonjak signifikan dari 0,30 menjadi 0,41. Akan tetapi, terjadi perubahan dramatis setelah itu, ketimpangan dan kemiskinan menurun secara signifikan. Bahkan, pada tahun 2018, Indonesia mencapai tonggak sejarah dengan tingkat kemiskinan yang turun di bawah dua digit untuk pertama kalinya. Sayangnya, kemajuan ini terhambat oleh dampak pandemi Covid-19. Tahun 2014 tercatat sebagai momen dramatis dalam sejarah ekonomi Indonesia, menandai kesenjangan ekonomi yang tertinggi yang pernah tercatat. Momen tersebut memberikan pembelajaran berharga tentang pentingnya keseimbangan, antara pertumbuhan ekonomi dan pemerataan. Menghadapi ancaman krisis iklim, tantangan ini menjadi semakin kompleks dengan munculnya kebutuhan penting akan keberlanjutan. Pertanyaan paling fundamental dalam pembangunan pun muncul: bagaimana Indone...

Era Baru Keuangan Berkelanjutan

Sektor keuangan global saat ini berada pada titik balik yang menentukan, di mana terjadi pergeseran paradigma yang signifikan. Bukan hanya tentang revolusi dalam teknologi finansial (fintech), melainkan sebuah transformasi dari keuangan komersial yang berorientasi utama pada profit menuju ke arah keuangan berkelanjutan dan keuangan berdampak. Perubahan ini, yang lebih luas dan terukur, merespons secara langsung tantangan global yang kompleks – terutama efek devastatif pandemi yang telah merobohkan kemajuan pembangunan bertahun-tahun, meningkatkan angka kemiskinan dan menyebabkan kehilangan pekerjaan bagi jutaan orang. Krisis ini memicu kebutuhan pembiayaan skala besar. Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) menunjukkan bahwa untuk mencapai Sustainable Development Goals (SDGs), diperlukan dana 2,5 triliun dolar per tahun, yang meningkat drastis menjadi 4,2 triliun dolar pasca-pandemi. Di Indonesia, kebutuhan pencapaian SDGs sebelum pandemi hingga tahun 2030 adalah...

Pembiayaan Transisi Hijau yang Kredibel

Taksonomi Hijau telah menjadi sorotan utama dalam diskusi publik, terutama pasca kritik yang dimuat Majalah Tempo terkait kemungkinan perubahan dari Taksonomi Hijau ke Taksonomi Berkelanjutan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Kritik ini menyoroti kekhawatiran terkait peluang pembiayaan kembali untuk sektor batubara dan kelapa sawit sehingga memperburuk emisi. Namun, sebelum mendalami isu ini lebih lanjut, penting untuk memahami esensi dari Taksonomi Berkelanjutan dan bagaimana hal ini berbeda dari Taksonomi Hijau. Taksonomi Hijau adalah kerangka kerja untuk mengidentifikasi dan mengklasifikasikan kegiatan ekonomi yang ramah lingkungan. Sebaliknya, Taksonomi Berkelanjutan mencakup dimensi yang lebih luas, termasuk aspek sosial dan tata kelola yang baik, seperti yang diuraikan dalam dokumen ASEAN Taxonomy for Sustainable Finance Version 2. Ini mencakup penghormatan terhadap hak asasi manusia, pencegahan kerja paksa dan kerja anak, serta mempertimbangkan dampak pada masyarakat setempat. ...

Digital Technology Brings Prosperity to Rural Areas

Despite the devastating impact of COVID-19, telecommunications and agriculture sectors continued to grow positively. Moreover, telecommunications related to information technology has even skyrocketed. COVID-19 forces humans to interact non-physically (contactless) or maintain a distance. Almost all economic and social activities instantly turn digital. The world has changed, the changes are so fast it's like blink of an eye. The prophecy of futurist Alvin Toffler in 1980s came true. Toffler predicted roaring wave of change due to information technology revolution triggering a future shock (The Third Wave). Through affordable smartphones and internet connections, the world is now in our hands. Whether rich or poor, big or small, everyone will bow equally in front of information technology. The amount of information that used to take 50 years to be obtained, can now be accessed in less than a year. Awesomeness of lecturer or teacher suddenly collapses in front of student who holds i...

Demokrasi Ekonomi melalui Demokratisasi Energi

Dengan risau mesti diakui, masa depan dunia sangatlah muram. Sekretaris Jenderal PBB António Guterres memperingatkan, kode merah umat manusia telah menyala. Sayangnya, hasil Konferensi Tingkat Tinggi Perubahan Iklim PBB atau COP 26 hanya membawa kemasygulan. Rendahnya komitmen negara maju dan negara besar berpengaruh mengandaskan harapan. Bumi ibarat kapal terbakar hampir tenggelam, bukannya memadamkan api, namun rebutan dan mempertahankan periuk terus terjadi. Hasil kesepakatan begitu normatif dan minim ambisi. Bumi memanas melampaui 1,5 derajat celsius dibandingkan masa pra-industrial tak terelakkan akan terjadi. Bahkan, skenario kenaikan hingga 3 derajat telah muncul. Apabila ini terjadi, maka tak ada tempat aman di bumi, demikian disampaikan The Economist. Ekosistem laut sekarat karena matinya terumbu karang. Gunung es mencair menaikkan permukaan laut dan melenyapkan banyak pulau dari peta. Banjir dan kekeringan ekstrem akan datang silih berganti. Sebuah riset menunjukkan, kenaikan...

Revolusi Kesehatan melalui Strategi Kebudayaan

Indonesia kini berada dalam episode krusial sejarah menentukan masa depan, karena memiliki risiko kehilangan dua bonus demografi secara permanen akibat kondisi kesehatan yang buruk. Sangatlah tepat Presiden Joko Widodo bertekat mewujudkan sumber daya manusia sehat dan cerdas di pidato kenegaraan, namun ini bukan perkara mudah karena perubahan budaya dan tantangan ekonomi-politik mesti dihadapi. Memang benar terobosan, inovasi, strategi dan cara-cara baru diperlukan seperti disampaikan presiden, namun lebih dari itu keberanian politik juga sangat dibutuhkan.    Meski Indonesia akan masuk kategori negara upper-middle income country tahun depan, namun negeri ini masih menghadapi persoalan berat malnutrisi. Bahkan, Indonesia mungkin akan menjadi satu-satunya negara berpendapatan menengah atas yang masih mengalami persoalan gizi begitu buruk. Satu dari tiga balita di Indonesia mengalami stunting karena kekurangan gizi secara kronis. Bahkan, di provinsi tertentu seperti Nusa Tengg...