Posts

Lompatan Besar Industri dan Energi

Indonesia pernah menjadi tempat industri canggih di Asia, bahkan Jepang dan Korea Selatan yang kini menjadi raksasa industri bukanlah tandingan. Sejarah masygul ”kegagalan” industri kedua terjadi kembali pada masa Orde Baru hingga sekarang, terutama di sektor otomotif. Di Asia Tenggara, Indonesia adalah negara pertama lokasi investasi industri otomotif raksasa dunia sekaligus pasar terbesar. Indonesia berpeluang seperti negara lain untuk berhasil dalam peluang mobil listrik.  Komponen termahal kendaraan listrik adalah baterai litium penyimpanan listrik yang bahan bakunya adalah nikel, dan Indonesia pemilik deposit nikel laterit terbesar dunia berkualitas tinggi. Dengan kekayaan produksi nikel tersebut dan sumber energi baru terbarukan (EBT) yang melimpah, suatu peluang besar bagi Indonesia untuk memahat sejarah membawa masa depan yang gemilang seperti pada era tahun 1870. Namun bagaimana untuk memastikan keberhasilan tersebut? Indonesia pernah menjadi tempat industri canggih di Asi...

Strategically Financing SDGs Gap

Indonesia is identified internationally as among the exemplary models in implementing the Sustainable Development Goals (SDGs). National and local stakeholders refer to the presidential decree on SDGs implementation; in which all governors, regents and mayors must follow the national structure in implementing inclusiveness and principle of leaving no one behind. However, achieving the ambitious targets of the SDGs requires financing at an unprecedented scale that the state budget cannot fulfil. Fortunately, Indonesia had gained a great opportunity to present SDGs investment plans and projects to potential institutional investors, investment and development banks, funds and assets managers, as well as philanthropists at the SDG Investment Fair (SDGI Fair) in New York, the United States, running from April 15 to 17. Indonesia was selected following a study by Voluntary National Reviews presented in 2016 and 2017 at the United Nations high level forum on sustainable development. Based on ...

”Infinity War” dan SDGs

Thanos memiliki kekhawatiran seperti halnya Sasaran Pembangunan Berkelanjutan (sustainable development goals/SDGs), sumber daya bumi tidak akan cukup memenuhi kebutuhan semua manusia. Akan tetapi, jalan keluar untuk mengatasi sangatlah berbeda. Thanos mengambil jalan pintas. Dalam Infinity War, dia memusnahkan sebagian manusia. SDGs sebaliknya lebih optimistis. Melalui transformasi global yang dilakukan bersama, kehidupan manusia bisa berkelanjutan. Memang benar kekhawatiran Thanos, daya dukung (carrying capacity) bumi memang terbatas. Dari kalkulasi 65 ilmuwan dunia, mayoritas berpendapat daya dukung bumi hanya mampu memenuhi kebutuhan paling banyak 8 miliar manusia. Jumlah manusia kini sudah 7 miliar. Populasi 8 miliar tinggal sejengkal lagi, sekitar tahun 2022. Saat era SDGs berakhir 2030, dunia akan dihuni hampir 9 miliar manusia. Tahun 2050 penduduk bumi mendekati 10 miliar dan 2100 mendekati 12 miliar. Kabar buruknya, itu proyeksi skenario menengah. Jika menggunakan skenario ting...

SDGs dan Transformasi Bisnis

 Pembangunan yang semata-mata mengejar pertumbuhan ekonomi telah mengorbankan lingkungan hidup dan membuat kesenjangan ekonomi begitu mengkhawatirkan. Pembangunan model ini makin ditinggalkan. Di dunia, Sustainable Development Goals (SDGs) kini telah disepakati menjadi paradigma dan panduan pembangunan. SDGs atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) adalah kesepakatan ambisius global yang mengintegrasikan tujuan sosial, ekonomi dan lingkungan sekaligus. SDGs memiliki 17 tujuan multidimensi dengan target indikator terukur. Parameter ini menjadi panduan sekaligus verifikasi, apa yang telah dilakukan dan sampai sejauh mana, dari waktu ke waktu, untuk mencapai target tahun 2030. Dalam dokumen SDGs, peran sektor bisnis diakui sangat vital dan disebutkan "Aktivitas dua bisnis, investasi dan inovasi adalah penggerak utama produktivitas, pertumbuhan ekonomi inklusif dan penciptaan lapangan kerja. Kami memanggil semua sektor bisnis menggunakan segnap daya upaya kreatifitas dan inovasi un...

SDGs dan Pembangunan

Dalam sejarah, belum pernah ada kesepakatan global yang begitu ambisius seperti Sustainable Development Goals (SDGs): merengkuh tujuan sosial, ekonomi dan lingkungan sekaligus. Indonesia patut bangga menjadi salah satu inisiator dan kini role model, karena leadership presiden yang memimpin sendiri pelaksanaan SDGs secara inklusif. Namun, sudahkah Indonesia mengoptimalkan SDGs dalam transformasi pembangunan? Indonesia berhasil mengarusutamakan SDGs dalam perencanaan pembangunan, dengan ditcantumkannya sebagian besar target SDGs dalam dokumen pembangunan. Namun, SDGs juga mentransformasikan cara pandang dan metode baru. Target ambisius SDGs tidak mungkin hanya dicapai pemerintah, perlu sinergi dengan organisasi masyarakat sipil, media, bisnis, filantropi dan perguruan tinggi. Lebih dari itu, budaya dan perilaku masyarakat perlu ditransformasikan menjadi sustainable behaviour. Transformasi Pemerintah SDGs mengejawantahkan perspektif baru pembangunan multidimensi. Artinya, untuk menyelesai...

Menakar Pengampunan Pajak

Era keterbukaan keuangan dunia telah menggetarkan pengemplang pajak. Zaman kegelapan dan remang-remang keuangan telah berakhir di dunia. Yurisdiksi yang dikenal sebagai surga pajak, seperti Singapura, Hongkong, Swiss, dan Mauritius, bahkan akan membuka informasi rekening warga asing. Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) berhasil menekan melalui skema common reporting standard (CRS) dan pertukaran informasi otomatis yang didukung penuh anggota G-20. AS memiliki regulasi Foreign Account Tax Compliance Act (FATCA) yang “mewajibkan” lembaga keuangan di negara mana pun memberikan data keuangan warga negara Amerika Serikat. Aturan itu tak lain untuk mencegah pengemplangan pajak. CRS adalah semacam FATCA, tetapi bersifat global. Ini artinya zaman kegelapan dan remang-remang keuangan telah berakhir. Di tengah era keterbukaan keuangan ini, secara mengejutkan inisiatif menerbitkan UU Pengampunan Pajak makin mengemuka. Krisis penerimaan negara jadi alasan. Diargumentasikan melalui...

Sinkronisasi Pembangunan

Simpang siur perencanaan dan penganggaran pembangunan telah memboroskan anggaran luar biasa besar. Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla menyadari hal ini dan berupaya mengubah dengan haluan money follow program untuk pelaksanaan pembangunan. Instruksi Presiden tentang Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Pembangunan Nasional kini sedang disiapkan. Ini adalah sebuah langkah maju, tetapi problemnya sebenarnya jauh lebih luas dan mencakup tata kelola keuangan negara. Pedoman money follow function atau organization yang selama ini telah ”menjebak” anggaran justru diorientasikan untuk membiayai fungsi atau organisasi birokrasi yang mahal untuk menjalankan kegiatannya. Kewenangan yang luas kementerian dan lembaga melalui prinsip let managers manage semakin memfasilitasi hal tersebut. Melalui privilese itu, para ”manajer” dengan diskresinya diberi kewenangan untuk mengelola berbagai sumber daya baik keuangan maupun non-keuangan. ”Lost in translation” Atas nama melancarkan fungsi kelembag...

Mewaspadai Bencana Demografi

Menyimak data kualitas hidup rakyat Indonesia beberapa tahun terakhir rasanya seperti melihat film horror, sangat mencekam. Penduduk yang kurang makan, ternyata kini jumlahnya lebih banyak dibandingkan hampir 25 tahun lalu. Situasi menyayat hati ini, paradoks ditengah klaim pemerintah yang membanggakan capaian prestasi pembangunan. Proporsi penduduk dengan asupan kalori dibawah 1.400 kkal/kapita/hari atau kurang makan adalah 17 persen pada tahun 1990. Dalam tujuan pembangunan milenium (MDGs), proporsi itu ditargetkan turun menjadi 8,5 persen. Ironisnya, proporsi penduduk sangat rawan makan tahun 2013 justru meningkat menjadi 19 persen atau mendekati 50 juta orang. Dalam literatur kesehatan, bila dalam dua bulan berturut-turut ini berlangsung maka terjadi rawan pangan akut yang menyebabkan kelaparan. Bila mistar ukur asupan kalori dinaikkan menjadi 2.000 kkal/kapita/hari atau disetarakan memenuhi kecukupan gizi  minimal manusia beraktivitas, problemnya tak jauh berbeda. Proporsi pen...

Era Baru Mengatasi Pengelak Pajak

Kondisi fiskal negara maju yang berdarah-darah, sebaliknya perusahaan multinasional (MNC) menyembunyikan keuntungan raksasa, telah menimbulkan kemarahan. Dikalkulasi aset keuangan Rp 230.000 triliun atau 250 kali ekonomi Indonesia disembunyikan di yurisdiksi ”surga pajak”. Meski negara maju begitu geram, yang lebih dirugikan sebenarnya negara berkembang. Lokasi fisik beroperasinya MNC, terutama di sektor ekstraktif, komoditas atau buruh murah, ada di negara berkembang. Aset keuangan menguap dari Indonesia, misalnya, mencapai Rp 3.600 triliun; dua kali lipat APBN 2014. Globalisasi telah merevolusikan rantai nilai global dan memfragmentasikan rantai produksi di banyak negara. Produksi lintas negara bisa membuat pajak berganda (double taxation) atau justru tanpa pajak (double non-taxation). Aturan pajak bersifat domestik dan berbeda antarnegara. Celah ini dapat dimanfaatkan untuk menghindari pajak. Penyembunyian keuntungan mudah dilakukan, bahkan tanpa harus melanggar aturan. Adanya Entit...

Mengakhiri Kemiskinan Berkelanjutan

SETIAP satu jam, seorang ibu hamil meninggal karena melahirkan, juga 17 bayi dan anak balita. Kemiskinan adalah salah satu penyebab utama tragedi menyedihkan tersebut. Dalam beberapa tahun terakhir, anggaran untuk menanggulangi kemiskinan melampaui Rp 100 triliun dan terus membesar. Namun, jumlah orang terangkat dari kemiskinan justru semakin sedikit. Saat ini, lebih dari 28 juta penduduk berada di bawah garis kemiskinan. Mistar ukur garis kemiskinan adalah Rp 303.000 per bulan. Apabila pengeluaran di bawah mistar tersebut, dikategorikan miskin. Mistar ini penting, tetapi tidak cukup. Ibarat pengukur tekanan darah, alat tersebut diperlukan untuk indikasi awal kesehatan, tetapi tidak cukup mendiagnosis apakah terkena sakit kanker, jantung, kolesterol, asam urat, atau diabetes. Tentunya tindakan untuk setiap penyakit tersebut bisa sangat berbeda. Mistar ukur kemiskinan moneter mampu menunjukkan berapa jumlah orang miskin dengan kategori di bawah mistar tersebut. Namun, apa saja hal prior...

Industrialisasi dan Liberalisasi Perdagangan

Sebuah negara berkembang tahun 1958 mengekspor mobil pertamanya ke Amerika. Meski itu momen kebanggaan bagi negara pengeskpor, namun produk mobil jauh dari bagus. Orang mencemoohnya dengan menyebut “empat roda dan sebuah asbak”. Produk itu gagal. Mobil kecil itu tampak buruk dan konsumen di AS enggan mengeluarkan uangnya. Mobil naas ini harus ditarik dari pasar AS. Bencana itu menimbulkan perdebatan besar di negara produsen. Banyak yang berpendapat perusahaan pengeskpor harus kembali ke bisnis aslinya memproduksi mesin tekstil sederhana. Perusahaan itu sudah 25 tahun mencoba dan pemerintah telah melakukan banyak hal (Chang, 2007). Namun apakah Anda akan ikut mencemooh, bila disebutkan negara itu adalah Jepang dan pabrikannya itu adalah Toyota? Kini tidak ada yang menterawakan produk Toyota karena telah diterima di seluruh dunia. Produk mewah Lexus menjadi ikon globalisasi dalam buku The Lexus and the Olive Tree dari Thomas Friedman. Toyota adalah perwujudan visi besar 50 tahun lalu, ba...

Questioning Free Trade and Liberalization

Nowadays, pressure is mounting for developing countries to adopt ""good policies"" to foster their economic development. These policies include the liberalization of trade, finance, and investment. These ideas are imposed on developing countries by the developed nations using strong and external bilateral and multilateral pressure. The argument is that these policies are good for developing countries because they are how developed nations became rich. The nature of economic liberalization has been facilitated by the Structural Adjustment Programs (SAPs) where the International Monetary Fund (IMF) and World Bank play an important role. The World Trade Organization (WTO), a development of the General Agreement on Tariffs and Trade, was set up in order to reduce tariffs in international trade and to eliminate all other measures that prevent free trade. Contrary to conventional wisdom, history shows that rich countries did not develop on the basis of the policies ...

Merebut ”Golden Age” 2020

 Indonesia berpotensi menjadi negara terkuat ke-5 atau ke-6 pada tahun 2020 di dunia, hal ini diprediksikan oleh Dinas Intelijen AS (NIC). Perhitungan itu didasarkan besaran kekuatan ekonomi yang dihitung berdasar Produk Domestik Bruto (PDB). Diperkirakan dengan pertumbuhan ekonomi 6-7 persen per tahun, besaran PDB Indonesia akan melampui negara-negara di Eropa. Sayidiman Suryohadiprojo (Sinar Harapan, 3 Januari) mengkritik hal itu dengan mengemukakan dominannya produksi pihak asing di Indonesia. Ini dilihat dari selisih Produk Domestik Bruto (PDB) terhadap Produk Nasional Bruto (PNB) begitu besar, mencapai lebih dari Rp 85 triliun pada tahun 2005. Melihat tren yang terjadi, bila dominasi pihak asing begitu besar, Sayidiman menyebut hal itu tak berbeda dengan penjajahan Belanda dulu. Prediksi NIC itu sebenarnya tentang Indonesia yang berada dalam neo-kolonialisme, katanya. Dominannya asing dalam perekonomian suatu bangsa sering menjadi kontroversi. Peristiwa Malari 1974 juga dipicu...

A World Free of Poverty; Economic Possibility of Our Time

*** *********** The End of Poverty:How We Can Make It Happen In Our Lifetime By: Jeffrey Sachs Penguin Press, 2005 xviii + 397 pages ***************** “Silent Tsunami” happens in our daily life. More than 20,000 people die everyday because of extreme poverty. Most people are unaware of the daily struggles for survival, and the vast numbers of impoverished people around the world who lose that struggle. They die namelessly, without public comment. Such stories rarely get written. Poverty is the greatest challenge of our age. More than one billion people live in the extreme poverty, it means one sixth of world population. Considering enormous problem, do we dare to dream a world free of poverty? Jeffrey Sachs bravely answers, yes we are. Not only dreaming, the Special Advisor to UN Secretary-General also gives concrete ways to reach the dream through his new book entitled The End of Poverty as a road map to a more prosperous and secure world. Sachs’s experience is globally recognized. Th...