Posts

Era Baru Mengatasi Pengelak Pajak

Kondisi fiskal negara maju yang berdarah-darah, sebaliknya perusahaan multinasional (MNC) menyembunyikan keuntungan raksasa, telah menimbulkan kemarahan. Dikalkulasi aset keuangan Rp 230.000 triliun atau 250 kali ekonomi Indonesia disembunyikan di yurisdiksi ”surga pajak”. Meski negara maju begitu geram, yang lebih dirugikan sebenarnya negara berkembang. Lokasi fisik beroperasinya MNC, terutama di sektor ekstraktif, komoditas atau buruh murah, ada di negara berkembang. Aset keuangan menguap dari Indonesia, misalnya, mencapai Rp 3.600 triliun; dua kali lipat APBN 2014. Globalisasi telah merevolusikan rantai nilai global dan memfragmentasikan rantai produksi di banyak negara. Produksi lintas negara bisa membuat pajak berganda (double taxation) atau justru tanpa pajak (double non-taxation). Aturan pajak bersifat domestik dan berbeda antarnegara. Celah ini dapat dimanfaatkan untuk menghindari pajak. Penyembunyian keuntungan mudah dilakukan, bahkan tanpa harus melanggar aturan. Adanya Entit...

Mengakhiri Kemiskinan Berkelanjutan

SETIAP satu jam, seorang ibu hamil meninggal karena melahirkan, juga 17 bayi dan anak balita. Kemiskinan adalah salah satu penyebab utama tragedi menyedihkan tersebut. Dalam beberapa tahun terakhir, anggaran untuk menanggulangi kemiskinan melampaui Rp 100 triliun dan terus membesar. Namun, jumlah orang terangkat dari kemiskinan justru semakin sedikit. Saat ini, lebih dari 28 juta penduduk berada di bawah garis kemiskinan. Mistar ukur garis kemiskinan adalah Rp 303.000 per bulan. Apabila pengeluaran di bawah mistar tersebut, dikategorikan miskin. Mistar ini penting, tetapi tidak cukup. Ibarat pengukur tekanan darah, alat tersebut diperlukan untuk indikasi awal kesehatan, tetapi tidak cukup mendiagnosis apakah terkena sakit kanker, jantung, kolesterol, asam urat, atau diabetes. Tentunya tindakan untuk setiap penyakit tersebut bisa sangat berbeda. Mistar ukur kemiskinan moneter mampu menunjukkan berapa jumlah orang miskin dengan kategori di bawah mistar tersebut. Namun, apa saja hal prior...

Industrialisasi dan Liberalisasi Perdagangan

Sebuah negara berkembang tahun 1958 mengekspor mobil pertamanya ke Amerika. Meski itu momen kebanggaan bagi negara pengeskpor, namun produk mobil jauh dari bagus. Orang mencemoohnya dengan menyebut “empat roda dan sebuah asbak”. Produk itu gagal. Mobil kecil itu tampak buruk dan konsumen di AS enggan mengeluarkan uangnya. Mobil naas ini harus ditarik dari pasar AS. Bencana itu menimbulkan perdebatan besar di negara produsen. Banyak yang berpendapat perusahaan pengeskpor harus kembali ke bisnis aslinya memproduksi mesin tekstil sederhana. Perusahaan itu sudah 25 tahun mencoba dan pemerintah telah melakukan banyak hal (Chang, 2007). Namun apakah Anda akan ikut mencemooh, bila disebutkan negara itu adalah Jepang dan pabrikannya itu adalah Toyota? Kini tidak ada yang menterawakan produk Toyota karena telah diterima di seluruh dunia. Produk mewah Lexus menjadi ikon globalisasi dalam buku The Lexus and the Olive Tree dari Thomas Friedman. Toyota adalah perwujudan visi besar 50 tahun lalu, ba...

Questioning Free Trade and Liberalization

Nowadays, pressure is mounting for developing countries to adopt ""good policies"" to foster their economic development. These policies include the liberalization of trade, finance, and investment. These ideas are imposed on developing countries by the developed nations using strong and external bilateral and multilateral pressure. The argument is that these policies are good for developing countries because they are how developed nations became rich. The nature of economic liberalization has been facilitated by the Structural Adjustment Programs (SAPs) where the International Monetary Fund (IMF) and World Bank play an important role. The World Trade Organization (WTO), a development of the General Agreement on Tariffs and Trade, was set up in order to reduce tariffs in international trade and to eliminate all other measures that prevent free trade. Contrary to conventional wisdom, history shows that rich countries did not develop on the basis of the policies ...

Merebut ”Golden Age” 2020

 Indonesia berpotensi menjadi negara terkuat ke-5 atau ke-6 pada tahun 2020 di dunia, hal ini diprediksikan oleh Dinas Intelijen AS (NIC). Perhitungan itu didasarkan besaran kekuatan ekonomi yang dihitung berdasar Produk Domestik Bruto (PDB). Diperkirakan dengan pertumbuhan ekonomi 6-7 persen per tahun, besaran PDB Indonesia akan melampui negara-negara di Eropa. Sayidiman Suryohadiprojo (Sinar Harapan, 3 Januari) mengkritik hal itu dengan mengemukakan dominannya produksi pihak asing di Indonesia. Ini dilihat dari selisih Produk Domestik Bruto (PDB) terhadap Produk Nasional Bruto (PNB) begitu besar, mencapai lebih dari Rp 85 triliun pada tahun 2005. Melihat tren yang terjadi, bila dominasi pihak asing begitu besar, Sayidiman menyebut hal itu tak berbeda dengan penjajahan Belanda dulu. Prediksi NIC itu sebenarnya tentang Indonesia yang berada dalam neo-kolonialisme, katanya. Dominannya asing dalam perekonomian suatu bangsa sering menjadi kontroversi. Peristiwa Malari 1974 juga dipicu...

A World Free of Poverty; Economic Possibility of Our Time

*** *********** The End of Poverty:How We Can Make It Happen In Our Lifetime By: Jeffrey Sachs Penguin Press, 2005 xviii + 397 pages ***************** “Silent Tsunami” happens in our daily life. More than 20,000 people die everyday because of extreme poverty. Most people are unaware of the daily struggles for survival, and the vast numbers of impoverished people around the world who lose that struggle. They die namelessly, without public comment. Such stories rarely get written. Poverty is the greatest challenge of our age. More than one billion people live in the extreme poverty, it means one sixth of world population. Considering enormous problem, do we dare to dream a world free of poverty? Jeffrey Sachs bravely answers, yes we are. Not only dreaming, the Special Advisor to UN Secretary-General also gives concrete ways to reach the dream through his new book entitled The End of Poverty as a road map to a more prosperous and secure world. Sachs’s experience is globally recognized. Th...

Difficulties of Building Microfinance

The progress of microfinance in serving microenterprises in Indonesia remains low. Although the activity is backed up by some banks such as BRI (people’s bank) and BPR (rural bank), there is still a huge gap between demand and supply. Based on data of Gema PKM (The Indonesian Movement for Microfinance Development), not more than 10 millions of 41.8 millions microenterprises have been served by microfinance. It means less than 25% of the total microenterprises in Indonesia. In the global level, microfinance is now accepted as a strategic tool for poverty alleviation. It is not very surprising when the United Nations has named this year as International Year of Microcredit (microfinance). Actually, this event is related with the Millenium Development Goals, which has an ambitious target for reducing half of the poverty rate until 2015. As it has been accepted in Microcredit Summit 1997 in Washington, there are 4 principles for running microfinance institution. These principles are reachi...

Menimbang Pilar Ketiga Dunia

MENGAWALI abad ke-21, dunia gelisah. Robohnya World Trade Center (WTC) dengan cara yang menggidikkan bulu roma, disusul ingar-bingar perburuan teroris di berbagai sudut jagat, membuat resah. Dalam seketika, sengat kedengkian dan kebencian berkobar. Ia ada di sana-sini. Generalisasi prejudice dan stereotype menyala. Tiba-tiba saja, siapa sebenarnya yang diancam dan siapa yang mengancam menjadi kabur. Namun, yang jelas bom di Bali membuat sadar bahwa kita sama-sama terancam. Tak ada tempat yang dijamin aman di jagat ini. Semenjak 50 tahun terakhir, dunia telah berubah secara radikal. Koordinat tradisional pemetaan politik dunia berubah jauh. Keangkeran tirai besi raksasa lumer. Bagai air bah, glasnost dan perestroika justru menenggelamkan Uni Soviet. Tembok Berlin ikut roboh. Derasnya arus pasar telah menyingkap tirai bambu Cina pula. Pesatnya kemajuan teknologi informasi, ikut meramaikan nyaringnya perubahan. Lalu, benarkah kemenangan kapitalisme liberal merupakan akhir dari sejarah, se...

Confessions of an Economic Hit Man

Image
Kami mewawancarai John Perkins, mantan anggota terhormat komunitas bankir internasional. Dalam bukunya Confessions of an Economic Hit Man, ia menjelaskan bagaimana sebagai seorang profesional yang dibayar mahal, ia membantu Amerika mencurangi dan menipu negara-negara miskin di dunia dengan trilyunan dolar, meminjamkan mereka utang yang melebihi kemampuan mereka untuk membayar, dan kemudian menguasainya. Berikut transrip wawancaranya. John Perkins menceritakan dirinya sebagai mantan “anggota perusak ekonomi” (economic hit men) - seorang profesional yang dibayar mahal untuk mencurangi negara-negara di dunia dengan triliunan dolar. (Sebenarnya) 20 tahun yang lalu Perkins telah memulai menulis buku dengan judul, Conscience of an Economic Hit Men. Perkins menulis, “Buku ini didedikasikan untuk presiden di dua negara, mereka yang telah menjadi klien dan saya sangat respek pada spirit kebaikannya, yaitu Jaime Roldós (presiden Ekuador) dan Omar Torrijos (presiden Panama). Keduanya terbunuh dal...

Mewaspadai Kapitalisme Global

Sulit dipungkiri, kenyataan yang bercokol di jagat adalah pertarungan pengaruh. Pertarungan yang menyentuh hal yang paling subtil dalam diri manusia, yaitu kesadaran. Hal ini sangat strategis, sebab seperti yang dikatakan Gramsci “If you can occupy peoples' heads, their hearts and their hands will follow”. Globalisasi telah mengakselerasi secara intensif dan ekstensif, sebuah homogenisasi pemikiran. Gosovic menyebutnya sebagai global intellectual hegemony.Sekelompok kecil elit yang memiliki sumber daya, jangkauan dan kekuasaan tak terbatas, telah mempengaruhi jagat. Mereka sepakat membangun kerangka konseptual dan paradigma, lalu mengglobalisasikan pemikiran itu. Kesepakatan tersebut dikenal dengan nama “Washington Consensus”. Disebut “consensus” karena merupakan sebuah konstruk atau model tanpa memberikan ruang perdebatan dan partisipasi. Kesepakatan itu dianggap “mantra” atau panacea yang akan memberikan jawaban persoalan dunia. Di era 1990-an, globalisasi pemikiran tersebut memb...

Leviathan itu Bernama Orde Baru

************** ******** Cendekiawan dan Kekuasaan dalam Negara Orde Baru Daniel Dhakidae, Gramedia Pustaka Utama, xxxviii + 790 halaman ************** ******** Sekokoh apapun kekuasaan, bila telah tergerogoti legitimasinya, akan tetap rapuh. Meski kekuasaan itu telah diselingkuhi pengetahuan, serta ditopang bedil dan kekerasan yang tak alang kepalang. Itulah akhir cerita Orde Baru. Sepotong kisah pedih, pada sebuah bangsa yang dalam pencarian. Namun jangan terkecoh, buku ini tak hanya berkisah tentang Orde Baru. Di awalnya, Dhakidae juga mengisahkan dari mana munculnya bayangan kebangsaan (imagined community) Indonesia. Para cendekiawan (founding fathers) yang tercerahkan, kemunculannya justru disebabkan pendidikan yang merupakan politik etis Belanda. Meski pada mulanya, pendidikan itu ditujukan untuk menghasilkan ambtenar dan administratur. Dan tak bisa dihapus dari sejarah, pada mulanya kaum cendekiawan kiri lebih progresif dari cendekiawan kanan yang nasionalis. Perlawanan terhadap ...

Derita Perjalanan Menuju Sebuah Bangsa

************** ******** Mencari Demokrasi; Benedict Anderson, Clifford Geertz, Daniel S. Lev, George McT. Kahin, Goenawan Mohamad, Takashi Shiraishi, William Liddle Institut Studi Arus Informasi (ISAI), 272 halaman ************** ******** LEWAT esainya, psikososial MAW Brouwer menuliskan kesan yang mendalam tentang Indonesia. Damned strange country, very very misterius. Negeri yang aneh, sangat aneh dan penuh rahasia. Orang selalu tertawa, selalu tersenyum, selalu bersenda-gurau tetapi... simsalabim hilanglah kepalamu. Clifford Geertz seorang sosiolog Indonesianist, juga tak kalah "misterius" mengungkapkan pandangannya tentang Indonesia. The crocodile is quick to sink, but slow to come up. Walaupun airnya kelihatan tenang tetapi ada buayanya. We can only wait for the crocodile! Begitu ujarnya. Indonesia memang tak mudah ditebak, bahkan sangat rumit. Banyak hal yang akan terjadi, lebih banyak dari apa yang kita pikirkan. Kemajemukan suku bangsa, ras, bahasa, dan agama, dalam n...